Lamban Bukan Berarti Tak Berguna (Cerpen)
Lollipop melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Mukanya cemas ketika tak sengaja melihatku lewat ujung matanya, sebelum kabur. Sebelum aku ikut berlari mengejarnya. "Arun! Berhenti gak! Arun!" Seruanku menggema di lorong yang sempit—diapit kelas di sisi kanan dan dinding pembatas dari kaca di sisi kiri—namun lumayan banyak murid berlalu-lalang. Ini lantai dua. Lollipop sempat menoleh. Tak sampai sedetik. Lalu semakin mempercepat gerak kakinya. Ah, tunggu. Menurutku, lari gadis itu terlalu cepat untuk dilakukan di lorong ini. Walau sepanjang penglihatanku, ia cukup gesit. Menghindar, berkelit dan jalan dengan badan miring tanpa memelankan laju. Aku masih mengejarnya sekuat tenaga. Walau dengan napas patah-patah. Berusaha sedekat mungkin dengannya. "Arun!" panggilku lagi. Gadis yang rambutnya diikat satu ke atas tersebut kembali menoleh. Mengangkat sebelah sudut bibirnya kemudian langkahnya sedikit memelan. Masih dengan kepala miring ke kanan, mulutnya komat-kamit ...