Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Emulsifier In Our Bread (Cerpen)

"Rada!" Dengan tergesa-gesa kuhampiri perempuan yang rambutnya dikepang satu dan diikat dengan pita merah. Selasar SMK Cipta Karsa yang sepi di pagi hari membuat ketukan sepatuku dengan lantai terdengar jelas. "Kau barusan bilang apa pada Kina?" Aku berhenti tiga langkah tepat di belakangnya. Gadis yang kupanggil memutar badan seratus delapan puluh derajat. Alisnya naik. "Hanya mengatakan hal yang perlu aku katakan," katanya acuh. Kedua bola matanya diputar ke kanan sebelum kemudian tatapan malasnya dilayangkan padaku. "Kebiasaan banget! Kau pasti mengatakan sesuatu yang menusuknya lagi, kan? Aku lihat wajahnya ditekuk begitu ketika masuk kelas," tuduhku tak habis pikir. Walaupun aslinya aku cuma pura-pura tidak tahu. Sebenarnya aku mendengar dengan jelas pembicaraan Rada dan Kina. Perempuan sedingin makanan beku itu meminta Kina menyalin diagram alir proses pembuatan selai nanas di bukunya ke kertas folio bergaris untuk tugas kelompok mata pelaj...

Behold (Cerpen)

“Pengamat itu kadang enggak harus terus jadi pengamat. Pengamat itu kadang perlu mendekat untuk mencari jawaban tepat. Dan pengamat itu ... hei, mengamati memang berguna, tapi terlibat dalam objek pengamatan bisa jadi lebih bermakna ketimbang hanya menarik kesimpulan dari apa yang dilihat mata.” —The Observer’s Diary. Pengamat. Dikata mimpi, bukan. Dikata profesi, bukan juga. Dikata hobi ... hobi macam apa lagi itu?  Tapi, aku suka mengamati. Apapun. Terserah. Suka-suka. Ada yang membuatku tertarik, aku dekati. Ada yang membuatku bertanya-tanya, aku cari titik terangnya.  Seperti ketika umurku menginjak empat tahun, pernah pada suatu ketika aku menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk mengamati bagaimana daun puteri malu menutup ketika disentuh. Merasa belum puas, aku menyentuhnya lagi, lagi dan lagi. Mulai dari menginjak semuanya langsung, menyentuh per-jajar, sampai berusaha menyentuh satu helainya saja. Hasilnya tentu saja enggak sama walau pada akhirnya dua deret daun...

Keduanya Tidak Salah (Cerpen)

Pada dasarnya aku sama sekali tidak mirip seperti yang mereka katakan. Bahkan benar-benar berbeda. Ibaratnya, seperti sepotong brownies bantat yang terlalu lama mendekam dalam pemanggang. Padat, keras, pahit, tak lagi dapat dibenahi, dan tidak seorang pun yang berminat memakannya.  Krim putih, meses aneka warna dan keju di permukaannya tak lain tak bukan ialah topping yang ‘sedikit’ mempercantik, secuil pun tidak memengaruhi rasa yang terlanjur rusak. Banyak yang bilang, hidup Kinanthi itu sempurna, segalanya ada, dan apa pun yang menjadi impian hampir setiap orang terwujud padanya. Prestasi, teman, keluarga, akomodasi tercukupi dengan baik, apa yang kurang dari itu? Kata mereka. Ah, sudahlah. Ini hidupku, bukan mereka. Mereka yang ‘menuduhku’ hidup bahagia tak akan pernah tau apa sebenarnya terjadi, tidak juga merasakan. Hidupku sebenarnya, tak seindah itu, tak semenyenangkan yang sering mereka ceritakan. Meskipun tinggal di bawah atap megah, memiliki prestasi, bisa berteman denga...

Trow in, Please! (Cerpen)

Seseorang lewat dengan gelas minuman di tangannya. Setelah habis, dia lempar begitu saja. “Hei, buang di tempatnya, dong!” Aku berusaha menegur, namun malah diacuhkan. Tak lama, seseorang lewat menenteng kantong kresek di tangannya. Bolpoin yang baru dia beli dikeluarkan, dimasukkan saku celana, sedangkan plastik kresek tersebut dia buang sembarangan. “Buang sampah itu di tempatnya! Jangan sembarangan!”  Lagi-lagi diacuhkan. Lihat juga: Freedom (Cerpen) Beberapa menit kemudian, ada seseorang lewat. Mulutnya masih sibuk mengunyah, sedangkan tangannya bermaksud memasukkan bungkus jajanan ke dalam tempat sampah namun tidak sengaja jatuh dan malah dibiarkan. “Buang yang bener, woi!” Aku tersenyum kecut. Setiap melihatnya selalu seperti ini. Miris.  Tidakkah mereka melihat? Padahal keranjang sampah ukuran cukup besar berdiri tak jauh dari tempat tergeletaknya sampah-sampah itu. Bahkan terbilang sangat sangat dekat—disekitar keranjang sampah, benda sisa itu bergeletakan. Sekolah dan...

Freedom (Cerpen)

Gambar
Alhamdulillah, cerpenku ini masuk nominasi The Winners (Juara 5) dalam kompetisi "Brave to Write with Wulanfadi and Coconut Books" beberapa waktu lalu 😊 Selamat membaca. .... “Dahulu kala, ada tiga bangsa yang menghuni Dataran Hijau. Bangsa Penyihir, Bangsa Petarung dan Bangsa Peri. Fisik ketiganya pada dasarnya sama, memiliki dua kaki, dua tangan, dua mata, dua telinga, satu mulut, satu hidung, sama seperti penghuni Dataran Hijau saat ini. Yang membedakan, Bangsa Penyihir memiliki kemampuan sihir, mengubah benda-benda, menumbuhkan tanaman dengan cepat, mengeluarkan petir dari ujung jarinya, bahkan menggerakkan sesuatu tanpa menyentuh. Sedangkan Bangsa Petarung memiliki kekuatan fisik paling tangguh dari ketiga bangsa, lincah dan mahir memainkan bermacam-macam senjata. Dan yang terakhir, Bangsa Peri, satu-satunya bangsa di Dataran Hijau yang mampu terbang seperti halnya kupu-kupu, mereka memiliki sayap lebar sangat tipis di punggung yang akan berpendar terang di ...