Freedom (Cerpen)


Alhamdulillah, cerpenku ini masuk nominasi The Winners (Juara 5) dalam kompetisi "Brave to Write with Wulanfadi and Coconut Books" beberapa waktu lalu 😊

Selamat membaca.







....

“Dahulu kala, ada tiga bangsa yang menghuni Dataran Hijau. Bangsa Penyihir, Bangsa Petarung dan Bangsa Peri. Fisik ketiganya pada dasarnya sama, memiliki dua kaki, dua tangan, dua mata, dua telinga, satu mulut, satu hidung, sama seperti penghuni Dataran Hijau saat ini. Yang membedakan, Bangsa Penyihir memiliki kemampuan sihir, mengubah benda-benda, menumbuhkan tanaman dengan cepat, mengeluarkan petir dari ujung jarinya, bahkan menggerakkan sesuatu tanpa menyentuh. Sedangkan Bangsa Petarung memiliki kekuatan fisik paling tangguh dari ketiga bangsa, lincah dan mahir memainkan bermacam-macam senjata. Dan yang terakhir, Bangsa Peri, satu-satunya bangsa di Dataran Hijau yang mampu terbang seperti halnya kupu-kupu, mereka memiliki sayap lebar sangat tipis di punggung yang akan berpendar terang di kegelapan ketika terbang.

“Lama ketiga bangsa hidup berdampingan di wilayah tersebut. Saat itu, entah bagaimana awalnya, ada peraturan tak tertulis yang membagi Dataran Hijau menjadi empat bagian, tiga bagiannya masing-masing menjadi daerah dari tiga bangsa, Bangsa penyihir di barat, Bangsa Peri di utara dan Bangsa Petarung di timur. Sedangkan satu per empat sisanya hutan kosong tak berpenghuni.

“Pada suatu hari datang sekelompok makhluk lemah. Dasar dari fisik mereka pun sama seperti penghuni sekarang maupun ketiga bangsa, namun tanpa sihir, tanpa fisik tangguh, ataupun sayap. Mereka tampak hidup susah dengan keadaan seperti itu. Oleh sebab tersebut ketiga bangsa sepakat memberikan seperempat wilayah di bagian selatan Dataran Hijau kepada mereka, daerah paling subur yang sebelumnya tak pernah terjamah oleh makhluk-makhluk serupa ketiganya.

“Bertahun-tahun berlalu. Pada awalnya keempat bangsa yang menghuni keempat wilayah hidup damai, saling mengunjungi, dan tidak ada perselisihan berarti. Antar bangsa antar etnis saling menghargai satu sama lain. Ketiga bangsa hidup sebagaimana mereka hidup dahulu, bercocok tanam, berburu dan membangun tempat tinggal. Sedangkan pendatang baru wilayah tersebut semakin hari semakin berubah cara hidupnya. Rumah-rumah kayu mereka berganti dinding kokoh, kemudian balok-balok raksasa yang ketika malam berpendar berdiri, lajur besi panjang yang dilalui balok berongga dibangun dan benda-benda aneh yang bergerak sendiri atau bahkan terbang diciptakan.

“Makhluk-makhluk lemah tersebut secara ajaib menjadi semakin kuat dan dengan perlahan menggeser keberadaan makhluk dari ketiga bangsa. Berusaha menguasai dan mengambil alih wilayah yang telah dibagi sehingga kekuasaan mereka semakin luas dan luas. Protes, pemberontakan, dan penolakan keras pun tak dapat dicegah. Hingga pada suatu waktu peperangan besar terjadi. Dan meski ketiga bangsa telah bahu-membahu bekerja sama melawan, kekalahan tetap tak terelakkan. Jutaan korban bergelimpangan, dan makhluk dari ketiga bangsa yang tersisa semakin tersisih. Mereka hanya bisa menempati wilayah yang ada, yang tidak ditempati makhluk-makhluk kejam tersebut, tiga per empat hutan bagian utara.”

“Lalu, sekarang di mana ketiga bangsa tersebut? Penyihir, peri dan petarung? Apa mereka ada?” Gadis kecil berkepang satu yang duduk di depanku bertanya. Tangannya bergerak-gerak mengayunkan tongkat berujung batu hijau berkilau, dengan batang terlilit tanaman merambat berwarna hijau pula.

“Kau ini bagaimana! Ketiga bangsa itu menjadi kita sekarang!” Bocah lelaki bersayap memakai setelan hitam-hitam menyenggol lengan gadis di sebelahnya yang kemudian dibalas dengusan sebal diikuti putaran bola mata ke kanan, lalu dia membalas lagi dengan menjulurkan lidahnya.

“Aku, kan bertanya pada Kak Lema, bukan padamu.” Gadis itu mendengus lagi lantas beralih padaku, menatap penuh binar penasaran.

“Sayangnya, Sena benar, Harlin, ketiga bangsa tersebut tak lain adalah kita sekarang.” Aku tersenyum lembut. “Sebuah akibat dari tinggal bersama di dalam satu wilayah. Ada perasaan tak tercegah yang mengakibatkan ketiga bangsa menghasilkan keturunan campuran. Seperti, Penyihir dengan Peri, atau Petarung dengan Penyihir, atau Peri dengan Petarung. Kemudian keturunan mereka pun begitu, Penyihir-Peri dengan Petarung-Peri dan sebagainya. Maka dari itu saat ini sulit membedakan dari bangsa apa kita sekarang."

Anak laki-laki bersayap memajukan bibirnya. Tampak kesal. Sedangkan gadis kecil berkepang satu terlihat sedih.

Aku paham apa yang sedang mereka rasakan dan pikiran. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Bangsa Hutan Utara sudah cukup menjelaskan makna air muka mereka. Wilayah yang semakin sempit, bahan pangan dan ketersediaan air bersih yang terbatas, juga ancaman fisik jika keberadaan kami terlihat oleh Bangsa Lemah.

Seolah tak puas mereka merampas tanah Bangsa Hutan Utara. Mereka berambisi memusnahkan keturunan Bangsa Peri, Petarung dan Penyihir sampai kemerdekaan kami benar-benar tak ada lagi.

"Apa suatu saat nanti Bangsa Hutan Utara bisa menang dari mereka atau punah?"

Dengan cepat aku menoleh ke arah Harlin. Tak percaya gadis sekecil ia bisa mengatakan hal seperti itu. "Kalau kau meminta jawaban, Kakak tidak tahu, Harlin. Tapi Kakak tidak akan pernah berhenti percaya bahwa esok hari bangsa kita akan mendapatkan hak-haknya kembali. Harapan selalu datang kepada orang-orang baik."

Kedua bocah yang baru saja mendengarkanku menceritakan sejarah tersebut mengangguk-angguk sembari tersenyum semangat. Kedua iris di masing-masing mata mereka memantulkan cahaya bulan purnama.

Diam-diam aku menutup kedua kelopak mata, berharap semoga semua ini akan segera berakhir dan kebahagiaan datang kepada Bangsa Hutan Utara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbincangan Mengenai Tiga Permintaan (Dongeng)

Novel Invisibility Di KBM App