Behold (Cerpen)
“Pengamat itu kadang enggak harus terus jadi pengamat. Pengamat itu kadang perlu mendekat untuk mencari jawaban tepat. Dan pengamat itu ... hei, mengamati memang berguna, tapi terlibat dalam objek pengamatan bisa jadi lebih bermakna ketimbang hanya menarik kesimpulan dari apa yang dilihat mata.” —The Observer’s Diary.
Pengamat. Dikata mimpi, bukan. Dikata profesi, bukan juga. Dikata hobi ... hobi macam apa lagi itu?
Tapi, aku suka mengamati. Apapun. Terserah. Suka-suka. Ada yang membuatku tertarik, aku dekati. Ada yang membuatku bertanya-tanya, aku cari titik terangnya.
Seperti ketika umurku menginjak empat tahun, pernah pada suatu ketika aku menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk mengamati bagaimana daun puteri malu menutup ketika disentuh. Merasa belum puas, aku menyentuhnya lagi, lagi dan lagi. Mulai dari menginjak semuanya langsung, menyentuh per-jajar, sampai berusaha menyentuh satu helainya saja. Hasilnya tentu saja enggak sama walau pada akhirnya dua deret daun yang berhadapan selalu menutup semua.
Bicara soal pengamat dan puteri malu, aku sendiri bisa dibilang pengamat yang em, enggak pemalu banget, sih, tapi juga enggak berani-berani amat. Dan soal amat-mengamati sejauh ini aku melakukannya dengan dua macam cara: dari jauh atau dari jauh kemudian mendekat.
Seperti kisah puteri malu tadi, pada mulanya aku cuma melihat teman-teman bermain dengan tanaman itu, belum puas, aku dekati.
Dari berbagai objek yang aku amati, paling menarik adalah manusia. Kebanyakan yang menjadi sasaran itu teman-temanku. Bagiku, mereka seperti bendera warna-warni, beragam, banyak jenis, dan macam-macam. Sungguh menyenangkan bisa mengenali sifat mereka satu per satu. Si A yang heboh, si B yang gokil, si C yang ceroboh, si D yang konyol, si E yang ramah dan sebagainya.
Di antara si A, B, C, D, E dan manusia ke sekian yang aku amati, ada satu yang bikin gemes pengen deketin. Teman SMP, satu kelas. Saat itu aku kelas tujuh, baru sebulan sejak penutupan Masa Orientasi Siswa. Usut punya usut, dia itu pendiam. Diam banget. Kalau enggak ada bahasan penting, dia enggak akan ngomong. Selain itu mukanya jutek, terkesan cuek, tatapannya tajem, nusuk sampai ke ulu hati—Eh?
Pokoknya gitu. Bawaannya santai, tenang, selow, kayak ... enggak ada minat buat temenan sama siapapun. Mengamati dia, rasanya seperti mengamati manekin. Datar, gitu-gitu aja, enggak menarik sama sekali kalau dipikir-pikir. Tapi, lama kelamaan aku jadi kepikiran juga. Ingin jadi temannya. Teman yang benar-benar teman, bukan cuma sekedar tau nama dan alamat.
***
Namanya Elya, satu tahun lebih tua dari aku, pandai olahraga panahan, suka naruto dan hobi menggambar.
Kesan pertama waktu aku melihat dia itu ... menyeramkan. Ya, menyeramkan. Apalagi kalau ngelihat matanya. Kayak kepengen banget nelen aku yang badannya mungil gini. Hiiy, ngeri. Ajaibnya, dia manusia pertama yang bikin aku merasakan rasanya pengen berteman. Sampai-sampai aku menulis di diariku yang pada halaman paling atas bertuliskan ‘IMPIAN’: “Berteman dengan Elya dan bikin dia cerewet”.
Konyol. Sekarang pun aku merasa kalau diriku yang dulu sangat konyol.
Sebelum-sebelumnya caraku berteman itu enggak banget, yakni dengan mengikuti alur, tau nama mereka dari teman-teman lain yang manggil. Enggak ada acara aku bilang, “Hai, nama kamu siapa?” atau, “Hai, kenalan, yuk!” Yang seperti itu sama sekali bukan aku.
Jadi, ini pengalaman ngajak temenan pertama kali dan baru akhir-akhir ini aku menyadari kalau cara ngajak berteman yang aku terapkan pada Elya sama sekali salah. Kesalahan yang malah membawaku berteman dengannya hingga kini.
Kesalahan itu berawal dari ‘geregetan’. Geregetan dengan style jutek dan stay coolnya yang kebih ke galak dibanding keren. Kemudian sangking geregetannya aku, jadilah ide-ide jahilku bermunculan satu demi satu. Mulai dari rencana jahil hari ini, besok, lusa, bahkan bulan depan. Aku menyebutnya ‘1001 Cara Menaklukkan Elya Galak’.
Receh. Tapi manjur untuk menumbuhkan semangatku melancarkan aksi-aksi itu.
Aku enggak sendiri tentu saja, ada temanku yang juga punya tujuan kurang lebih sama. Jadilah aku dan Vea bersatu teguh melancarkan kejahilan mulai dari iseng menandatangani halaman pertama LKS Elya sampai ngiket sepatunya ke tiang bendera. Beruntunglah Elya karena kita enggak tega ngerek sepatunya ke atas.
Elya jadi kesal? Tentu saja. Marah? Meledak paling parah waktu aku acak-acak bangkunya di kelas. Dampaknya sampai bikin aku sempat takut sama dia. Tentu saja aku sadar itu salahku dan aku enggak berhak ikutan marah juga. Masa yang bikin marah balasnya pake marah? Kan nanti jadinya marah-marahan. Terus, kapan tujuan ingin berteman itu kesampaian?
Tapi, aku enggak pernah kapok. Kejahilanku bahkan enggak hanya sampai di situ. Hobiku selain mencoreti buku sekolahnya, yaitu merecoki Elya kalau sedang menggambar. Jadi, waktu dia duduk manis di bangku dengan tangan kanan pegang pensil mekanik sedangkan matanya fokus pada kertas sambil melet-melet—ya, melet itu ciri khas Elya pas lagi nggambar—maka aku dan Vea akan dengan senang hati menopang dagu dengan tangan di depannya, ngelihatin dia nggambar sambil ngoceh hal-hal enggak mutu.
Aku enggak peduli apa manusia galak itu memperhatikan atau enggak, yang jelas aku suka melakukan apa saja yang berlawanan dengan kebiasaannya. Biar dari diam jadi berisik, dari tenang jadi ricuh-tapi-asyik, dari hitam-abu-putih jadi mejikuhibiniu tambah pink tambah krem tambah toska.
***
Satu kata buat Elya ketika aku sudah kenal dia. Misterius.
Sebagai seorang pengamat, aku merasa menemukan hal baru darinya. Air mukanya, rautnya, ekspresinya, seperti menyiratkan ‘sesuatu’ yang enggak bisa dijangkau hanya dengan membaca gelagatnya. Hampir semua tentang Elya mengejutkan dan tak terduga. Pertanyaan yang biasa aku tanyakan pada diri sendiri ketika mengamati seseorang enggak bisa terjawab hanya dengan melihat kebiasaannya setiap hari.
Mengapa sikapnya begini? Mengapa dia punya pendapat begitu? Mengapa caranya menghadapi suatu tindakan orang lain begitu agresif? Atau, apa yang membuatnya jadi seperti sekarang ini?
Setiap orang pasti memiliki jawabannya masing-masing. Dan biasanya aku bisa menyimpulkan sesuatu sehingga kadang penilaianku terhadap orang itu agak berbeda dari orang kebanyakan.
Tapi dengan Elya, seolah aku enggak bisa menarik kesimpulan apapun selain dia adalah cewek jutek yang begitu kelas delapan mendadak jadi humoris, cerewet dan receh. Ya, aku dan Vea berhasil berteman dengan Elya walau cewek itu tetap misterius di mataku. Setidaknya, dia enggak se-kaku dulu yang bahkan lebih kaku dari kayu besi terendam air. Bukti kemajuannya adalah dia pernah memanggilku aku dengan sebutan ‘anak kecil’.
Menurutku itu kemajuan. Walau sedikit menyebalkan, sih, tapi karena memang secara umur aku masih bocah kelas enam SD dan aku juga mengaku kalau tingkahku masih seperti anak kecil, jadi ya, aku enggak akan mempermasalahkannya.
***
Elya si misterius menjelma Elya si jenius memasuki bulan ke tujuh kelas delapan. Kemampuan di pelajaran eksaknya enggak bisa diremehkan. Kalau saja dia menambah sedikit kadar kerajinan dirinya, rapor dan peringkatnya akan naik drastis.
Aku bilang begitu bukan tanpa dasar. Sejak awal kelas tujuh yakni saat aku sedang gencar menjahilinya aku sudah memperhatikan cara Elya mempelajari sesuatu. Otaknya bekerja cepat, enggak lelet, dan gampang mengerti. Dia adalah satu dari dua teman sekelasku yang aku rasa memiliki kelebihan di ilmu eksakta terutama mata pelajaran ujian nasional.
Benar saja, di hari kelulusan NEM dia tertinggi kedua di sekolah.
Enggak disangka-sangka walau awalnya aku sudah menebak-nebak.
Dia motivator terbesarku melangkah. Pribadinya yang enggak gampang menyerah, selalu mengingatkan untuk berpikiran positif dan pedulian membuatku yang gampang nge-down ini jadi punya semangat.
Kemudian setelah acara purnawiata usai, berakhirlah kisah ini, berawal dari ‘impian konyol’ dan berakhir pertemanan.
Ngomong-ngomong, Elya yang sekarang itu ... entahlah. Dia, sih ngakunya pendiam. Tapi sewaktu kita ketemu, biasa aja, tuh. Masih receh meski juteknya enggak bisa hilang.
Dan soal impian, menurutku bukan hanya sekedar ingin begini ingin begitu. Jadi guru, dokter, jurnalis, notaris, jaksa, penulis, bidan, perawat adalah impian atau cita-cita pada dasarnya. Impian besar. Semua orang punya, semua orang memikirkannya. Tapi coba, bagaimana dengan impian-impian kecil seperti ingin berteman, ingin kenalan dengan seseorang, ingin bisa memasak, ingin membantu orang lain, ingin berkomunikasi dengan baik, ingin terlihat kuat, ingin bisa memaafkan, tidak semua orang memikirkannya, bukan?
Seenggaknya, jarang ada yang menganggapnya serius. Padahal terkadang dengan hadirnya impian kecil itulah kita bisa menjadi ‘seseorang’ dan ‘sesuatu’.
Lagipula, bukankah hal-hal besar selalu bermula dari hal-hal kecil?
Bermimpilah setinggi langit, namun jangan lupa memimpikan hal-hal kecil. Sesuatu ada karena dipikirkan, dimimpikan, hingga pada akhirnya sesuatu itu terealisasikan.
Komentar
Posting Komentar