Emulsifier In Our Bread (Cerpen)
"Rada!" Dengan tergesa-gesa kuhampiri perempuan yang rambutnya dikepang satu dan diikat dengan pita merah. Selasar SMK Cipta Karsa yang sepi di pagi hari membuat ketukan sepatuku dengan lantai terdengar jelas. "Kau barusan bilang apa pada Kina?" Aku berhenti tiga langkah tepat di belakangnya.
Gadis yang kupanggil memutar badan seratus delapan puluh derajat. Alisnya naik. "Hanya mengatakan hal yang perlu aku katakan," katanya acuh. Kedua bola matanya diputar ke kanan sebelum kemudian tatapan malasnya dilayangkan padaku.
"Kebiasaan banget! Kau pasti mengatakan sesuatu yang menusuknya lagi, kan? Aku lihat wajahnya ditekuk begitu ketika masuk kelas," tuduhku tak habis pikir. Walaupun aslinya aku cuma pura-pura tidak tahu.
Sebenarnya aku mendengar dengan jelas pembicaraan Rada dan Kina. Perempuan sedingin makanan beku itu meminta Kina menyalin diagram alir proses pembuatan selai nanas di bukunya ke kertas folio bergaris untuk tugas kelompok mata pelajaran Produksi Pengolahan Hasil Nabati.
Tapi bukannya meminta baik-baik, Rada malah mengatakan, "Salin atau namamu enggak akan dicantumkan dalam laporan praktik nanti. Selesaikan pagi ini juga karena itu cuma sedikit dan akan dikumpulkan saat istirahat pertama. Yang lain sudah mengerjakan bagian masing-masing. Jangan pikir kau bisa seenaknya dengan pura-pura tidak tahu."
Mendengarnya aku langsung punya keinginan kuat untuk tepuk jidat. Ah, atau menepuk jidat Rada.
"Tak pernahkah kau memikirkan perasaan orang lain, heh? Hati batumu itu sungguh keterlaluan!" Aku berusaha memojokkan Rada selagi gadis tersebut diam saja. Siapa tahu dengan begitu mulutnya jadi baik.
Rada memejamkan kedua matanya dengan tenang. Hanya dua detik. Lantas sepasang tangannya ia lipat ke depan dada. "Kalau aku enggak terus terang memberitahunya, dia enggak akan paham salahnya di mana. Lalu suatu saat diulangi lagi karena merasa aman-aman saja."
Kusadari ucapan Rada ada benarnya juga. "Tapi bisa bicara baik-baik, kan? Pelan-pelan supaya Kina enggak tersinggung."
"Apa kau yakin jika aku berbicara baik-baik dia akan benar-benar menyimak dengan saksama, paham dan bukan sekedar iya-iya saja?" Rada berujar ringan bahkan raut wajahnya kelihatan sama sekali tanpa beban.
Kuhirup udara dalam-dalam dengan perlahan. Mengisi paru-paruku dengan oksigen sebanyak mungkin. Kemudian mengembuskannya cepat sampai terdengar seperti dengusan. "Kau terlalu berprasangka buruk, Rada."
"Kau yang terlalu berprasangka baik," balasannya.
Baiklah. Kukatupkan mulut sejenak. Sebenarnya ingin sekali aku mengatakan, Memangnya berprasangka baik itu salah? Namun yang keluar dari lisanku justru, "Terserah kau sajalah."
Rada hanya mengendikkan bahu dan berlalu. Sedangkan aku terus saja memperhatikan punggungnya yang semakin jauh sambil geleng-geleng kepala sampai gadis tersebut menghilang di perbelokan. Langkah ringannya membuatku menelengkan kepala ke kanan dan mengernyitkan dahi.
Perselisihan seperti barusan bukan merupakan hal baru untukku. Bahkan saat istirahat pertama perdebatan serupa terjadi lagi.
"Enggak bisa lebih tegas?"
Aku berjengit begitu mendengar suara dari belakang punggung. Pelan seperti bisikan. Namun artikulasinya sangat jelas.
"Aku tak yakin dia sungguh-sungguh mendengarkan ucapanmu dan bukan menganggapnya sebagai angin lalu." Rada berkomentar. "Lihat, dia jadi mengeluarkan seribu satu alasan untuk menunda menyelesaikan tugasnya."
Entah dia muncul dari mana. Bahkan aku tak melihatnya di sekitarku tapi tahu-tahu sudah di belakangku dan mengkritik caraku menagih tugas Kina. Aku sengaja mengajukan diri karena kalau Rada yang melakukannya, aku khawatir perempuan itu akan merasa tersudut. Namun rupanya keputusanku justru memancing perdebatan baru.
Aku balik badan. Menatapnya penuh tanya.
"Dasar lembek!" ejeknya.
Seketika aku membulatkan mata. "Kau yang terlalu blak-blakan! Dasar ratu tega!" Kedua tangan aku kepalkan kuat-kuat. Salah satunya kuangkat sejajar dengan telinga, bersiap melayangkan pukulan kepada Rada tapi ... tidak jadi. Malah membuang napas. "Dengar, ya, Rada! Enggak semua orang bisa menerima mulut super pedasmu. Setiap kau berbicara seperti itu, secara enggak langsung kau sedang menciptakan musuh. Sadar enggak, sih?"
Gadis tersebut diam sejenak sebelum kemudian terang-terangan mendecih. "Itu berarti kita musuh. Kau dan aku selalu berbicara pedas satu sama lain."
Kesimpulannya membuatku gemas. Tak tahan untuk tidak mendesis. "Itu beda tahu!" Aku mendelik padanya. "Kau enggak bisa menyamaratakan semua orang! Kalau aku, kan memang sudah kebal dengan omonganmu, jadi enggak masalah. Tapi terserah, deh! Susah sekali mengajakmu berbicara."
Bodohnya, Rada membalas ucapanku hanya dengan mengibaskan telapak tangan kanannya di depan wajah sambil berkata, "Ya sudah, terserah."
Perdebatan pun berakhir dengan Rada dan aku saling diam beberapa saat, saling tak memedulikan satu sama lain selama satu sampai dua jam. Namun setelah itu saling berbicara dan berdiskusi bersama lagi dengan berbagai topik. Meski jika Kina sudah masuk ke dalam topik pembicaraan kami maka akan terjadi perdebatan lagi.
Sering kali aku bertanya-tanya. Merasa tak paham tentang bagaimana aku bisa berteman dengan manusia sejenis Rada bahkan selama hampir lima tahun. Mengingat ada banyak sekali karakter berlawanan di antara kami, banyak perselisihan yang terjadi dan begitu banyak pula perbedaan pendapat.
Kadang-kadang aku merasa seperti ada sesuatu di antara aku dan Rada yang berperan sebagaimana emulsifier dalam roti. Berfungsi menyatukan dan menstabilkan komponen-komponen yang tidak dapat tercampur secara alami. Menjadikan tekstur roti lebih lembut dan empuk sehingga terasa enak di mulut.
Dan aku menyadari sesuatu ketika bertemu dengan orang baru, seorang teman.
Suatu saat kami dituntut bekerjasama dalam praktek pembuatan makanan dengan tanaman herbal sebagai bahan subtitusi. Aku berusaha membuat kegiatan ini berjalan dengan biaya yang masuk akal bagi pelajar tetapi ia bersikeras untuk membuat produk yang sempurna tanpa cela versinya. Perdebatan pun pecah, berakhir dengan voting karena tak kunjung mendapatkan titik temu dan akhirnya dimenangkan olehku.
Namun aku tak menyangka kemenangan tersebut akan mengorbankan hal besar. Aku dan dia tak pernah kembali akur meskipun aku telah berusaha memperbaiki komunikasi dan berbaikan dengannya. Tak seperti ketika aku beradu pendapat dengan Rada yang beberapa saat setelah saling mendebat, tak pernah mempermasalahkan perbedaan pendapat lebih jauh.
Rupanya emulsifier dalam roti pertemananku dan Rada adalah rasa saling menghargai. Kami saling menyadari bahwa kami merupakan dua orang yang berbeda, memiliki karakter serta pemikiran yang berbeda dan tetap berteman meski hampir tak pernah sependapat.
"Danela!" Seruan Rada membuatku menghela napas. "Jadi cewek itu yang tegas! Ya atau tidak. Gak ada 'ya' tapi masih bilang 'tapi'! Terus, jangan mengulur-ulur waktu! Sikapmu yang begitu bikin dia berharap tahu!" Sudah puluhan kali Rada mengatakan hal itu. Matanya yang berapi-api menusukku.
Dalam hati aku bersyukur teman-teman sekelasku sudah pada pulang. Tinggal aku dan Rada yang ada di kelas 12 Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian 2 ini.
"Aku ingin menolak. Ini sedang menyusun kata-kata yang pas. Kalau aku memakai caramu, nanti dia sakit hati bagaimana? Pikirkan perasaannya, dong!" protesku yang juga sudah puluhan kali, sejumlah dengan banyaknya protesan Rada.
"Memangnya sudah pasti dia memikirkan perasaanmu?" Gadis itu melengos. Sebelah sudut bibirnya terangkat sambil melirikku pakai ujung matanya.
"Kau saja yang terlalu negative thinking sama cowok!"
"Terserah!"
"Ya, memang terserah aku. Dasar tukang kritik gak punya hati!" Aku meninggalkan Rada dengan mengentakkan kaki. Walaupun diam-diam menahan tawa.
Aku tahu dengan benar bahwa Rada seperti itu tak lain untuk melindungiku dari sakit hati di kemudian hari. Sebenarnya dia sangat peduli. Aku pun setuju kalau perempuan itu harus tegas. Tapi menurutku, tegas bukan berarti harus pedas dan menyakiti. Kalau bersikap tegas dengan elegan dan tenang saja bisa, kenapa tidak?
Namun sekali lagi, Rada dan aku merupakan dua orang yang berbeda. Sebagai seorang teman, aku menghargai pendapatnya.
Komentar
Posting Komentar