Keduanya Tidak Salah (Cerpen)

Pada dasarnya aku sama sekali tidak mirip seperti yang mereka katakan. Bahkan benar-benar berbeda. Ibaratnya, seperti sepotong brownies bantat yang terlalu lama mendekam dalam pemanggang. Padat, keras, pahit, tak lagi dapat dibenahi, dan tidak seorang pun yang berminat memakannya. 

Krim putih, meses aneka warna dan keju di permukaannya tak lain tak bukan ialah topping yang ‘sedikit’ mempercantik, secuil pun tidak memengaruhi rasa yang terlanjur rusak.

Banyak yang bilang, hidup Kinanthi itu sempurna, segalanya ada, dan apa pun yang menjadi impian hampir setiap orang terwujud padanya. Prestasi, teman, keluarga, akomodasi tercukupi dengan baik, apa yang kurang dari itu? Kata mereka.

Ah, sudahlah. Ini hidupku, bukan mereka. Mereka yang ‘menuduhku’ hidup bahagia tak akan pernah tau apa sebenarnya terjadi, tidak juga merasakan.

Hidupku sebenarnya, tak seindah itu, tak semenyenangkan yang sering mereka ceritakan. Meskipun tinggal di bawah atap megah, memiliki prestasi, bisa berteman dengan siapa saja serta hidup di tengah keluarga baik-baik saja, ada yang dimiliki oleh mereka tapi tidak aku miliki. Dan itu hal yang menurutku sangat berharga seandainya aku memiliki.

Aku memiliki seorang adik perempuan yang parasnya cantik. Benar-benar cantik. Kulit mulus tanpa jerawat, seputih bengkoang, bulu mata melengkung indah, dan bibirnya tipis merah muda. So ... perfect. Tapi dia sering bilang iri padaku. Katanya, apa pun yang dia lakukan selalu salah di mata Mama dan apa pun yang aku lakukan selalu benar.

Sejujurnya aku kurang paham dengan arti ‘selalu salah’ dan ‘selalu benar’ di dalam ucapannya. Maksudku, benar itu bisa diusahakan, sedangkan salah adalah hal wajar dalam segala tindak tanduk manusia. Aku pikir, mungkin adikku itu terlalu berlebihan.

Tapi, memang sepertinya Mama benar sedikit memperlakukan Moe berbeda. Adikku yang super aktif dan senang bergaul sana-sini itu kerap diberi batasan dalam hal tertentu. Hangout bareng teman diberi batasan jam, pulang sekolah selalu diingatkan tepat waktu, malam hari diteriaki suruh belajar, paginya Mama bersama air dalam gayung masuk ke kamar untuk membangunkannya, dan semua itu tidak pernah Mama lakukan padaku.

Apa mungkin karena itu? Bukankah dengan begitu artinya Mama lebih perhatian padanya? Dia diberi perlakuan ‘spesial’ seolah pewaris tahta kerajaan yang selalu dipastikan mahir segala hal.

Tidak. Aku tidak pernah iri dengan perlakuan Mama atau Papa pada adikku. Namun aku iri pada kemampuannya menanggapi perlakuan tersebut yang bisa disebut ... berontak.

Sepanjang sejarah sampai aku duduk di tahun pertama Sekolah Menengah Atas ini, tidak ada ceritanya Mama atau Papa menyuruhku belajar, yang ada aku bergerak sendiri sebelum mereka memintaku. Tidak ada pula ceritanya Mama memperingatkanku pulang sekolah tepat waktu, yang ada setiap hari aku selalu pulang tepat waktu. Tidak ada juga ceritanya Mama membatasi waktu mainku dengan teman-teman, sebab main pun aku tidak pernah. Setiap libur, setiap senggang, hampir seluruh waktu aku habiskan bersama buku dan laptop, membaca atau menulis.

Aku yang bocah aneh ini mereka sebut pandai, penurut, dan sempurna. Sempurna dari mana? Aku tak pernah bisa membantah dan sulit berekspresi. Cara berontakku adalah diam. Marahku, kesalku, menyesalku juga diam. Mungkin sesekali sembunyi di balik tersenyum tipis. Segala sesak menyesak dalam rongga hati yang kian lama kian penuh. Tak pernah bisa meluncur bebas, tak pernah bisa terungkap oleh lisan, dan hanya barisan kata di atas lembaran putih yang mampu menampung semua itu.

Aku iri pada adikku. Dia bisa berkata “tidak” pada Mama yang memintanya ini itu. Dia bisa bilang “please, sebentaarr saja” pada Mama setiap kali ia minta izin main dengan temannya. Dia bisa mengungkapkan apa pun yang mengganggunya dengan ucapan. Dia bisa meluapkan isi hatinya dengan beragam ekspresi. Apa yang lebih melegakan dari itu?

Aku iri... . Aku ingin memiliki semua itu.

***

“Kalau kalian benar-benar yakin, bukan mustahil mematahkan ini dengan satu jari.” 

Kalimat itu aku dapatkan ketika kelas enam Sekolah Dasar dari wali kelasku. Kalau tidak salah, satu bulan sebelum Ujian Nasional. Waktu itu perempuan berumur kepala empat tersebut membawa dua pak pensil kayu di tangan kirinya dan satu batang di tangan kanan.

Ya, kami ditantang mematahkan pensil kayu hanya dengan jari telunjuk. Caranya, berkelompok tiga orang. Dua masing-masing memegang kuat setiap ujung pensil, satu lagi mematahkan dengan membenturkan jari telunjuk ke permukaan batangan kayu tersebut dengan mantap. Nanti bergantian, setiap murid harus mencoba mematahkan. 

Percaya bakalan bisa? Aku tidak. Tapi setelah menyaksikan sendiri seorang temanku berhasil, terbesit keinginan melakukan hal yang sama. Walau pada akhirnya tetap saja tidak bisa. Jariku sakit setelah mencobanya. Apakah benar ada hubungannya dengan keyakinan yang disebut-sebut tadi? Kalau dipikir-pikir, aku memang agak ragu.

“Hei, lagi mikirin apa?” Satu tepukan terasa mendarat di pundak, asal arahnya dari belakang. Benar saja, teman sebangkuku menyapa kemudian duduk di tempatnya setelah meletakkan cup berisi cairan cokelat muda, beraroma khas kopi dan permukaannya berembun.

Aku membalas dengan gelengan. Sedangkan ia cuma mangut-mangut sambil menyedot sedikit es kopinya dengan sedotan.

“Kenapa sifat manusia itu dibuat berbeda-beda? Padahal berbeda itu bikin konflik, bikin perkara. Kenapa enggak dibikin sama aja?” Teman sebangkuku tiba-tiba berujar begitu, lalu mendengus. Tampak kesal dengan sesuatu.

“Kalau sama, enggak ada konflik, dunia enggak akan indah. Mungkin saja kita malah bosan hidup karena enggak ada yang menarik. Semua baik, semua ramah, enggak ada yang berniat jahat. Atau sebaliknya, semua licik, semua munafik, semua egois, mungkin dunia bakalan hancur sehancur-hancurnya,” kataku membalas.

“Tapi Kinanthi, kalau—”

“Pelangi kalau cuma satu warna menarik enggak?” 

Perempuan yang memiliki potongan rambut sebahu dan berbando itu menggeleng. 

“Nah, kan, sama halnya dengan dunia. Semua ditempatkan sesuai porsi dan posisi, memiliki fungsi serta tujuan masing-masing.” Aku melanjutkan, “Kalau enggak ada Arjun yang jahili kamu, mungkin kamu pun enggak akan punya insiatif jahili aku, kemudian kita enggak akan jadi sedekat ini. Benar, kan?” sambil menaik-turunkan alis dan memasang seringai jahil.

“Apa sih, kok bawa-bawa Arjun!”

Aku terbahak dengan respons Cindya, lantas tertegun sendiri. 

Pelagi, perbedaan, porsi, dan posisi. 

Sepertinya aku pun salah menempatkan iri yang selama ini bersemayam. Seharusnya bukan iri, tapi harapan. Seharusnya bukan iri, tapi keyakinan untuk mengubah diri. Seharusnya aku menempatkan brownies topping yang bantat dan gosong itu bukan pada penglihatan manusia, melainkan pada hewan mungil yang gemar berbaris dan ramah.

Manusia memang enggan memakan sepotong makanan pahit dan keras itu, tapi sekelompok semut akan sangat bahagia ketika menemukannya. 

Aku mungkin tak pernah nyaman dengan diam dan kebisuan ekspresi yang tak diharapkan ini, tapi bagaimana dengan orang lain? 

Boleh jadi, dari pada mengucap hal-hal yang bisa menyakitkan hati, lebih baik diam, lebih baik tidak mengatakan apa-apa. Boleh jadi, sifat yang tertanam pada diriku ini memang sudah tepat porsi dan posisinya. Lagi pula, aku masih bisa berbicara selain tentang diriku sendiri dan ekspresi.

Dan jika seseorang menginginkan hal baik yang ada pada orang lain ada pada dirinya, mestinya bukan iri yang ditanam, melainkan keyakinan untuk mendapatkannya disertai usaha mewujudkan.

Aku ... harus tersenyum untuk ini, mulai saat ini. 

Berekspresi tanpa kata dan tanpa raut wajah, anggap saja di sanalah aku belajar untuk tak menyakiti orang lain dengan tajamnya lisan dan air muka yang bisa saja menjadi sebab kesalahpahaman. Penerimaan adalah kuncinya. Mengakui dan rela, lantas menyelaraskannya dengan keadaan.

Semuanya itu ... pasti ada hikmahnya, bukan? 

Selalu ada tempat yang tepat di setiap karakter. Selalu ada kesempatan di setiap niat. Mengubah atau melapangkan, keduanya tidaklah salah selama ada kerelaan di akhir, apa pun jadinya, apa pun hasilnya, apa pun risiko yang ada selama tetap berada dalam lingkaran kebaikan.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbincangan Mengenai Tiga Permintaan (Dongeng)

Freedom (Cerpen)

Novel Invisibility Di KBM App