Trow in, Please! (Cerpen)
Seseorang lewat dengan gelas minuman di tangannya. Setelah habis, dia lempar begitu saja.
“Hei, buang di tempatnya, dong!” Aku berusaha menegur, namun malah diacuhkan.
Tak lama, seseorang lewat menenteng kantong kresek di tangannya. Bolpoin yang baru dia beli dikeluarkan, dimasukkan saku celana, sedangkan plastik kresek tersebut dia buang sembarangan.
“Buang sampah itu di tempatnya! Jangan sembarangan!”
Lagi-lagi diacuhkan.
Beberapa menit kemudian, ada seseorang lewat. Mulutnya masih sibuk mengunyah, sedangkan tangannya bermaksud memasukkan bungkus jajanan ke dalam tempat sampah namun tidak sengaja jatuh dan malah dibiarkan.
“Buang yang bener, woi!”
Aku tersenyum kecut.
Setiap melihatnya selalu seperti ini. Miris.
Tidakkah mereka melihat? Padahal keranjang sampah ukuran cukup besar berdiri tak jauh dari tempat tergeletaknya sampah-sampah itu. Bahkan terbilang sangat sangat dekat—disekitar keranjang sampah, benda sisa itu bergeletakan.
Sekolah dan tempat umum tak ada bedanya. Orang-orang terlalu mengandalkan jasa cleaning service untuk semua itu, padahal bisa sendiri.
Lagipula, hei, tidak ada alasan untuk tak membuang sampah pada tempatnya. Setiap sampah yang dihasilkan seseorang itu adalah tanggung jawab pribadi, bukan orang lain.
"Ha ... aku benci melihat ini."
Aku bergerak jongkok, memungut satu per satu sampah-sampah tersebut lantas memasukkan ke tempat semestinya yang ternyata masih memiliki banyak ruang. Hanya ada sejumlah kecil sampah, tidak sampai separuh memenuhi benda itu.
Apalah guna keranjang sampah jika terus-terusan begini?
Kapan mereka akan sadar?
Komentar
Posting Komentar