Cinta Itu Tidak Harus Satu (Cerpen)
Karya: Syafira Muna Syahida
Semua kebiasaan atau karakter yang melekat pada seseorang selalu berawal dan berasal dari rumah. Aku percaya itu. Lantaran, aku mengalaminya sendiri dan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa sehari-hari.
Heran melandaku baru-baru ini. Sebenarnya, tidak hanya heran, tapi juga risih. Beberapa siswi di sekolah bertanya padaku tak hanya sekali dua kali.
"Awakmu iku wong ngendi, to? Kok lek ngomong nggawe basa Indonesia?"
"Orang Tulungagung?" jawabku dengan sedikit nada bertanya. Bukan karena tidak yakin, melainkan karena terkejut dengan pertanyaan yang diajukan siswi tersebut padaku.
"Tau tinggal nek luar kota?"
Raut bingungku semakin menjadi. Tapi tetap menggeleng. "Enggak. Dari lahir sampai sekarang aku tinggal di Tulungagung."
Lawan bicaraku mangut-mangut. Namun tampaknya tidak puas dengan jawabanku. Sepertinya ia sedikit merasa aneh. Maka dari itu aku menambahkan, "Soalnya, dari kecil aku sudah terbiasa berbicara pakai bahasa Indonesia."
Itu masalahku.
Banyak teman-teman di sekolah yang mengira aku anak pindahan dari luar kota karena setiap berbicara selalu menggunakan bahasa Indonesia. Dikiranya, aku tidak bisa bahasa Jawa. Walaupun hal itu tidak salah juga. Aku bisa, kok berbahasa Jawa. Tapi sedikit. Ditambah lagi, aku tidak terbiasa menggunakannya saat berkomunikasi sehari-hari. Hanya memakainya saat ada pelajaran Bahasa Daerah dan itupun tidak baik-baik amat.
Mungkin di beberapa tempat berbicara dengan bahasa Indonesia itu dianggap biasa saja. Terutama di kota-kota yang kebanyakan dihuni pendatang. Namun hal itu tidak berlaku di salah satu kabupaten di Jawa Timur ini. Mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Jawa untuk bercakap-cakap sehari-hari. Tidak heran kalau banyak yang bertanya-tanya tentang orang Tulungagung yang berbahasa Indonesia bahkan saat berbincang ringan dengan teman—di mana biasanya orang-orang menggunakan bahasa Jawa ngoko.
Sebagaimana yang kusebut di awal tadi, semuanya bermula dari rumah. Hal tersebut terbukti ketika aku bertanya kepada Bunda, "Kenapa, sih aku sampai terlanjur terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa seperti anak-anak lain?"
Bunda tertawa sejenak sebelum kemudian menjawab, "Dulu, Bunda pikir, dengan membiasakanmu dan adik-adikmu berbahasa Indonesia, nantinya akan mempermudah kalian dalam literasi. Jadi terbiasa dengan bahasa buku. Tapi ternyata malah kebablasan."
Ah, aku paham. Dan memang, rencana Bunda berhasil.
Semakin bertambah usia, semakin bertambah kecintaanku pada buku. Semakin waktu berjalan, semakin besar ketertarikanku pada tulisan.
Menghabiskan waktu duduk di dekat jendela kamar yang terbuka dengan novel thriller atau buku motivasi ditemani segelas kopi dingin adalah favoritku. Berlama-lama di toko buku setelah berminggu-minggu puasa jajan merupakan hal yang paling kunanti-nanti. Bahkan baru-baru ini aku mencoba menulis tulisanku sendiri.
Untukku, mempelajari bahasa Indonesia itu sangat menarik dan menyenangkan. Setiap hari aku mendapat pengetahuan baru, baik dari buku-buku yang kubaca atau akun-akun media sosial yang aku ikuti. Kemudian berusaha menerapkannya dalam percakapan dan tulisan. Sampai-sampai, aku punya hobi baru selain membaca dan menulis. Yaitu, meralat ucapan seseorang yang aku rasa tidak efektif atau berbelit. Saat di kelas, saat upacara bendera, saat menonton televisi atau mendengarkan podcast. Tetapi hanya dalam hati.
"Ditambah lagi, kamu yang jarang bergaul, Kak. Cuma itu-itu saja temannya. Masih mendingan adikmu yang punya banyak teman," ujar Bunda menambahkan. Kemudian jemari beliau mendarat di ujung hidungku, mencubit gemas, membuatku pura-pura mengaduh sambil mengerucutkan bibir. "Makanya, mulai sekarang, coba belajar komunikasi pakai bahasa Jawa sedikit-sedikit."
"Kalau sedikit, sudah, Bun. Aku paham, kok sama percakapan bahasa Jawa yang dipakai teman-temanku."
"Sedikit lebih banyak lagi," ujar beliau. "Maksud Bunda itu belajar berbahasa Jawa. Bukan hanya mendengarkan saja. Oke?"
Tak berani menjawab atau berjanji. Aku hanya menipiskan bibir lantas mencicit sangat pelan, "Aku, kan cinta banget sama bahasa Indonesia."
"Kak Fira," kurasakan tangan Bunda menepuk pelan bahuku, "belajar bahasa Indonesia itu memang penting. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus mencintai bahasa nasional kita sendiri. Karena bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Alat komunikasi supaya antar suku yang sangat beragam ini saling mengerti."
Aku menoleh. Menatap Bunda lekat.
"Tapi, Kak, kita pun tidak boleh melupakan bahasa daerah yang merupakan bagian dari keberagaman bangsa Indonesia. Apa jadinya kalau tidak ada lagi yang belajar bahasa daerah? Punah. Hilang sudah keberagaman yang selama ini dibanggakan." Telapak tangan Bunda beralih mengelus lengan atasku. "Lagipula, Kak, cinta itu tidak harus satu. Jadi, Kakak harus belajar mencintai keduanya."
Aku mangut-mangut. Tanda paham. Bukan menyetujui.
Bohong kalau aku mengatakan bahwa aku setuju begitu saja untuk berbahasa Jawa hanya karena satu kali dinasehati Bunda. Bohong kalau aku berkata bahwa aku langsung belajar berbahasa Jawa hanya karena beberapa kalimat panjang Bunda.
Lagipula, kebiasaanku berkomunikasi dengan bahasa Indonesia seolah sudah mendarah daging. Kalaupun suatu saat aku memutuskan untuk benar-benar menjadi orang Tulungagung yang berbahasa Jawa, pasti susah sekali menghilangkannya.
Tidak masalah. Setidaknya, ucapan Bunda membuatku sedikit tertarik dengan bahasa daerah. Modal yang sedikit namun cukup bagus untuk mulai memupuk kecintaanku terhadap bahasa Jawa. Semua itu memerlukan proses yang panjang dan bertahap.
Yang terpenting dari semua itu adalah aku mau memulai. Maka akhir dari tujuan untuk dapat berbahasa Jawa akan tercapai, suatu hari nanti.
***
Komentar
Posting Komentar