Fantasi dan Suatu Saat Nanti (Cerpen)

Aku suka sekali berfantasi. Membayangkan kejadian-kejadian seru, sosok-sosok imaji, dan duniaku sendiri. 

Hanya dengan berbekal pensil mekanik ukuran nol koma lima, sebatang penghapus dan setumpuk kertas putih aku mampu menciptakan banyak hal menakjubkan yang mustahil ada di alam nyata. Mulai dari bajak laut, manusia duyung, peri, elf, trol, raksasa batu, dan beragam makhluk fantasi lainnya.

Seperti sekarang, aku tengah mengerjakan gambar penyihir cantik berjubah yang rencananya akan aku beri warna marun, tak bertopi, melainkan bertudung, menggenggam mantap tongkat yang memiliki panjang hampir sama dengan tingginya. Tongkat yang dibawanya sedikit rumit, pada bagian atas batang dililit semacam tanaman merambat, meliuk-liuk indah dengan puncak batu berlian. 

Posisi perempuan penyihir tersebut tersenyum menyamping, dengan latar pemukiman berupa rumah-rumah kayu beratap bentuk mirip topi penyihir. Sepertinya, setelah ini akan kugambar sosok tampan bersayap yang menghadapnya sambil menatap garang. 

Penyihir itu kunamai Tera dan judul dari kisahnya adalah “Romansa Menyedihkan”. 

Cinta bertepuk sebelah tangan yang disebabkan oleh perbedaan etnis. Tak seperti judulnya, dalam pikiran aku membayangkan akhir bahagia. Setelah berhasil mendapatkan hati sang pujaan, Tera dan Pangeran Peri pemberani memutuskan mendobrak aturan tradisi. Keduanya mencoba bahagia meski dikucilkan bangsa masing-masing dan tetap menjalani hidup dengan baik.

“Kali ini apa, heh? Seorang penyihir?” 

Suara lelaki dari belakang tak lantas membuatku mengalihkan perhatian dari gambar separuh jadi yang sedang aku kerjakan. Dari bayangannya aku bisa tahu bahwa ia sedang mengintip dari balik punggungku.

“Dan Pangeran Peri pemberani.” Aku menambahkan. “Kau tahu aku tak pernah menyukai gambar yang sendirian dan kesepian. Terlalu menyedihkan untuk dunia imaji yang penuh warna dan bahagia,” sambil menggoreskan ujung pensil membentuk helai-helai rambut setelah membuat garis wajah menyamping, berhadapan dengan perempuan penyihir.

“Mengapa kau tak mencobanya saja?”
Tanganku yang hendak menggores lagi terhenti, menoleh ke arah lelaki tersebut, memiringkan kepala, dan mengerutkan kening.
“Maksudku, di dunia nyata, mengapa kau tidak—”

Sorotku berubah jengah kemudian. Lanjutan dari ucapannya mudah saja ditebak. “Ray, kita sudah berulang kali membahas ini, oke? Dan aku tidak suka membicarakannya.”

Rayan menatapku menerawang. Kemudian dari belakang dia melangkah memutariku dan berhenti di hadapan. “Kau tidak lelah, Fai?” tanyanya sembari menekuk lutut, bersila, lantas meletakkan tangannya dalam posisi terlipat di atas meja pendek di sebelah tempat tidur di kamarku.

“Untuk apa?” Aku bertanya balik sambil mengendikan bahu enteng.  Kembali tak kuhiraukan adik kandungku yang usianya hanya berbeda tujuh belas bulan dariku tersebut.

“Memangnya, kau tidak ingin terlihat em ... normal?”

Keningku mengerut lagi. Ujung pensilku masih menekan kertas namun tidak bergeser. “Memangnya, menurutmu aku tidak normal?” balasku lagi dengan pertanyaan, menatap tepat ke matanya dengan kesal.

“Bisakah kau tidak membalas pertanyaan dengan pertanyaan?” Rayan tampak kesal.

“Bisakah kau tidak usah bertanya macam-macam?” Jawabku lagi-lagi dengan pertanyaan. “Lagi pula, pertanyaanmu itu sama sekali tidak penting.”

“Itu karena aku peduli padamu!”

Bagus, bagus sekali. Sekarang kekesalan Rayan mungkin sudah naik satu level. Tidak akan ada kabar baik. Kabar buruknya, mungkin gambar Pangeran Peri harus tertunda jadi sampai beberapa menit ke depan. Atau mungkin jam? Tergantung seberapa marah adik lelakiku itu.

Aku siap-siap beranjak.

“Mau ke mana?”

“Ke mana lagi? Pergi dari dunia menyenangkanku sebelum Pangeran Iblis mengamuk lalu menghancurkan hasil imajinasiku. Kau pikir aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Ah, ya, kau memberiku ide. Sepertinya menyenangkan membuatkan gambar dan mengkhayalkan cerita untuknya. Pangeran Iblis yang jatuh cinta pada Putri Malaikat. Romantisnya....” Aku menangkupkan kedua tangan di pipi, berlagak seperti gadis yang sedang digombali, meleleh. Sebelum kemudian kembali memasang tampak cuek dan melenggang pergi dari sana.

***

Aku tak pernah mengerti jalan pikir Fai. Dia perempuan paling aneh sekaligus ajaib yang pernah aku tahu. Sialnya, hubungan darah yang mengikat ini secara paksa membuatku menyayanginya, mengakibatkan diriku tidak bisa menahan rasa peduli padanya. Sialnya lagi, tampaknya Fai menyalah artikan kepedulianku dan menganggapnya sebagai penghambat.

Fai suka menggambar. Dan yang paling dia suka adalah karakter fantasi. Namun selain menggambar, dia juga suka mengkhayalkan cerita tokoh-tokoh yang digambarnya. 

Anehnya, dia tidak menggambar komik, hanya karakter dengan ekspresi dan latar. Jadi satu-satunya yang mengetahui kisah lengkap dari gambar-gambarnya hanya dia.

Bakat Fai menakjubkan. Tapi aku menyayangkan satu hal. Fai tidak suka berinteraksi dengan orang lain. 

Seolah hidup di dunianya sendiri, ia hanya berteman baik dengan gambar-gambarnya, karakter imajinya, tidak pernah berminat berteman atau berkenalan dengan yang lain. 

Di sekolah pun ia tampak cuek. Setiap menit, setiap detik tenggelam dalam khayalan, menggambar di bangku favoritnya, pojok paling belakang.

Tak terkira berapa kali aku mencoba mematahkan jeruji besi yang diciptakan Fai untuk mengurung dirinya sendiri. Sayang sekali hingga usiaku yang menginjak enam belas ini belum pula berhasil. Sepertinya, ini akan memakan banyak waktu.

Dari sini aku bisa melihat rambut lurus saudara perempuanku jatuh ke bahu, beberapa ada yang menggantung menutupi muka. Selalu begitu setiap kali Fai terlarut dalam khayalannya. 

Entah dari mana kali ini dia mendapatkan kertas dan pensil, aku kira tadi dia keluar kamar tanpa membawa apa pun. Rupanya membuatnya keluar dari kamar tidurnya bukan berarti menghentikan dia mengkhayal dan berfantasi. 

Setelah mengambil karet rambut dari kamar saudara perempuanku, aku menghampirinya ke lantai di antara meja ruang tengah dan televisi, berjongkok di belakangnya dan mulai menyisir rambut Fai dengan jari-jari.

“Kau bahkan lebih peduli pada gambarmu daripada diri sendiri. Apa kau tidak sadar rambutmu itu mengganggu?”

Tidak ada respons dari Fai. Tidak meski berupa gumaman, kendikan bahu atau helaan napas. Pandangannya masih lurus ke atas kertas dan tangannya yang menggenggam pensil bergerak menggores sesuatu di sana. 

Apa dia marah?

Selesai menyisir aku mengumpulkan rambut Fai menjadi satu ke belakang. “Aku ingin kamu berhenti membangun penjara, Fai.”

Masih tidak ada respons. Tak tampak sepercik pun kepedulian terhadap ucapanku.

“Aku suka gambarmu.” Aku berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk membuka topik. 

Fai memang susah diajak berinteraksi, harus ada pemancing yang membuatnya tertarik atau kesal dulu, baru ia mau bicara.

“Suka?”

Senyumku spontan mengembang begitu mendapat timbal balik dari saudaraku yang lebih sering sinis dan cuek kecuali pada gambar-gambarnya. 

“Tapi aku lebih suka kalau kau punya teman diskusi soal menggambar. Jadi kau bisa melihat perkembangan gambarmu dari sudut pandang orang lain,” ucapku sambil menjauhkan tangan dari kepalanya setelah selesai mengikat rambut hitam lebat tersebut.

Kali ini keningnya tampak mengerut. Bahkan dalam sejam dia sudah mengerutkan kening tiga kali.

“Kalau ada, kau mau berteman dengannya?” tanyaku kemudian. 

Sedangkan perempuan berparas manis yang nyatanya lebih tua dariku namun lebih terasa seperti adik tersebut tampak berpikir. Ujung jarinya menyentuh dagu dengan kepala sedikit dimiringkan. 

“Bagaimana?”

Dia belum menjawab, malah kembali menatap gambarnya seolah tengah berbicara pada sosok di atas kertas tersebut.

“Atau, kau bisa mencobanya. Kalau tidak suka, aku tidak akan memaksa lagi.” Aku memberikan penawaran dengan harapan Fai setuju. 

Soal berhasil membuat dia berteman atau tidak, biarlah menjadi urusan nanti sambil jalan. Yang terpenting melangkah dulu. Satu atau setengah atau seperempat langkah tidak masalah.

“Boleh. Tapi janji, kau tidak akan mengganggu penyihir, peri, elf, trol, atau siapa pun yang aku gambar.” Ia menyodorkan telapak tangannya. 

“Janji,” jawabku sambil menumpukan tanganku ke atas telapak tangan Fai.

Mungkin, ini bisa jadi awal yang baik untuk Fai. 

Aku bersyukur meskipun dirinya belum sepenuhnya menyadari kesalahannya. Setidaknya, dengan ini aku bisa mulai menghentikan tindakannya yang terkesan tidak butuh orang lain.
Suatu saat nanti, mungkin, dia akan menyadari dengan sendirinya.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbincangan Mengenai Tiga Permintaan (Dongeng)

Freedom (Cerpen)

Novel Invisibility Di KBM App