Sebaris Dongeng Tentang Dunia Sang Putri (Cerpen)

Ada yang lebih menyesakkan ketimbang tak memiliki apapun dalam hidup, yakni ketika kau memiliki segalanya namun kau tahu bahwa itu semua sama sekali tidak berguna. Palsu. Ibarat jebakan, tampak menyenangkan, akan tetapi sesungguhnya membunuh. Meskipun mungkin, tak sesadis dan semenyeramkan itu.


Wanita berparas cantik yang menyilakanku tinggal dalam istananya memperkenalkanku dengan nama Aire pada orang-orang. Sedangkan untuk dirinya sendiri ia memilih panggilan ‘Ibu' jika aku memanggilnya. 

Kata pemuda-pemuda dan anak-anak kecil di desa, perempuan berparas elok tersebut memiliki hati yang lembut dan baik, sabar, serta memiliki kepedulian tinggi. 

Namun beda tangan beda hasil, beda kelompok beda pendapat, kata gadis-gadis dan para wanita dewasa, perempuan muda itu bagaikan purnama yang selalu dipuja kaum lelaki dan anak-anak. Pengacau, perusak, perebut hati yang kejam.

Kalau bagiku, ia Ibu yang tak seperti ibu. Ia ibu pertamaku tapi ... ketika melihat ibu anak-anak lain, aku jadi merasa tak memiliki Ibu.

Pada suatu hari, kaki-kakiku yang terbalut sepatu flat tipis merah ruby berpindah dari satu batu besar ke batu besar yang lain. Sambil menenteng keranjang anyaman penuh buah apel, menyenandungkan lagu yang entah bagaimana terngiang begitu saja dalam benak, dulu, ketika membuka mata dan melihat Ibu pertama kali.

Wahai kau si tudung merah, sepatu kau tertinggal. Ambillah, ambil ke tepi sungai, dengan keranjang penuh buah merah. Ambillah, ambil ke tepi sungai dengan keranjang penuh buah merah....

Angin bertiup kencang, melepaskan pengait tudung yang aku kenakan, menerbangkannya kembali ke hutan tempatku mencari buah apel beberapa waktu lalu. 

Sontak aku berbalik, mengejar ke arah perginya tudung marun yang kini tak tampak lagi rupanya, menapaki batu-batu sungai yang licin dengan cepat. 

Hap! Hap lagi. 

Aku tergelincir. Tercebur ke dalam aliran air yang dangkal dan ... tentu saja basah. Tapi karena tak mau di sana lebih lama, aku segera bangun dan kembali melangkah sambil berharap pakaianku segera kering.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbincangan Mengenai Tiga Permintaan (Dongeng)

Freedom (Cerpen)

Novel Invisibility Di KBM App