Teriakan Sebuah Lampion (Dongeng)

Hari ini merupakan hari kelahiran putri. Raja dan Ratu melangkah perlahan ke arahku. Mereka bersisian. Saling berpegangan tangan. Alangkah romantisnya.

Raja dan Ratu sampai di hadapanku. Saling menatap satu sama lain. Raut keduanya menyiratkan kesedihan.

Raja dan Ratu masih diam di depanku. Masih saling menatap. Namun kali ini tersenyum. Senyum yang menyimpan kerinduan dalam.

Raja dan Ratu mulai mengulurkan tangan kepadaku. Embusan napas keduanya yang menyentuh tubuhku terasa panjang. 

Raja dan Ratu menyentuh kedua sisiku. Memegangi dengan lembut. Lantas pelan-pelan mengangkat dan melepaskan aku ke langit malam.

Udara hangat di dalamku membuat diriku semakin tinggi. Terangkat semakin jauh. Sehingga aku dapat menyaksikan kawan-kawanku yang berpendar terang menyusul terbang. Bukan main banyaknya.

Aku sungguh bahagia. 
Sangat bahagia. 
Sampai... angin membawa kami ke perairan.

Di sana aku melihat dengan jelas sosok yang dirindukan Raja dan Ratu duduk di atas perahu bersama seorang pria. Keduanya menatapku dan ratusan kawan-kawanku dengan bahagia.

Rasanya, ingin sekali aku berteriak, "Raja! Ratu! Tuan Putri ada di sini! Putri yang kalian rindukan ada di sini!" 

Namun tentu saja, sebuah lampion tak dapat melakukan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbincangan Mengenai Tiga Permintaan (Dongeng)

Freedom (Cerpen)

Novel Invisibility Di KBM App